DKLIKNEWS – Pembinaan hubungan antara pembina partai dan pimpinan partai dan anggota atau simpatisan partai di dunia politik Jepang menyerupai hubungan dalam keluarga besar. Ada anggota keluarga senior dan yunior.
Hal itu diungkap guru besar sastra Jepang dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. I Ketut Surajaya, dalam diskusi di Jakarta, Kamis 21 Juli 2022 malam. Diskusi itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA.
Diskusi itu membahas tentang “Shinzo Abe dan Demokrasi Ala Jepang”.
Menurut I Ketut Surajaya, ada pola hubungan primordial Oyabun-Kobun di Jepang. Oyabun adalah representasi pembina, penasihat, dan ketua partai. Sedangkan Kobun adalah representasi dari anggota dan simpatisan partai.
“Dalam kampanye pemilu, kepentingan individual atau faksi Oyabun-Kobun sejalan dengan kepentingan partai. Yang beda hanyalah fokus program yang dikampanyekan,” lanjutnya.
Menurut I Ketut Surajaya, kondisi ini rentan dengan hubungan-hubungan primordial.
“Seperti pembangunan simpati, empati oleh calon, kepada pemilih yang rentan politik uang, penyogokan,” tutur pakar budaya Jepang ini.
Hubungan primordial antara calon dan pendukung partai sangat penting. Seperti, lewat penyampaian kartu ucapan turut berbahagia, ucapan bela sungkawa, dan bentuk simpati lain-lain.
“Ketika kampanye dalam rangka pemilu, untuk anggota Majelis Tinggi dan Majelis Rendah di Jepang, para kandidat atau simpatisan tidak boleh mendatangi rumah kediaman penduduk,” ujar I Ketut Surajaya. ***
Sumber:
https://www.dkliknews.com/internasional/pr-3483944671/diskusi-satupena-i-ketut-surajaya-hubungan-antara-pembina-dan-anggota-partai-di-jepang-mirip-keluarga-besar
